Pariwarajambi.com – Ibadah haji merupakan rukun Islam ke-5 yang wajib dikerjakan oleh muslim yang mampu. Mampu secara fisik maupun secara materi.
Haji mabrur selalu menjadi harapan setiap umat Islam yang menjalani ibadah haji. Predikat haji mabrur ini kelak mendapat balasan surga di akhirat.
Untuk diketahui, haji mabrur menurut bahasa adalah haji yang baik atau yang diterima oleh Allah SWT. Sedangkan menurut istilah syar’i, haji mabrur ialah haji yang dilaksanakan sesuai dengan petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dengan memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal yang dilarang (muharramat) dengan penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata atas dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT.
Ibadah haji yang mencapai haji mabrur atau haji yang diterima Allah SWT dapat menggugurkan dosa serta mendapatkan balasan surga.
Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW bersabda tentang pahala bagi haji mabrur.
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kecuali surga.” (HR Bukhari)
Sabda serupa juga diriwayatkan An-Nasai. Rasulullah SAW sekali lagi menyebut surga sebagai balasan bagi jemaah haji yang menyandang predikat mabrur.
الْحَجَّةُ الْمَبْرُورَةُ لَيْسَ لَها جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ
Artinya: “Tidak ada balasan bagi jamaah haji mabrur selain surga.” (HR An-Nasa’i)
Predikat atau gelar haji mabrur sebenarnya bukan hak manusia karena hanya Allah SWT yang menghendaki-Nya. Meskipun demikian, ada ciri-ciri yang dijelaskan Rasulullah SAW terkait haji mabrur.
Dalam Kitab Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, terdapat hadits yang menyebut bahwa haji mabrur merupakan amal yang utama. Dari Abu Hurairah RA, bahwasanya Rasulullah SAW pernah ditanya, “Amal apa yang paling utama, wahai Rasulullah?” Rasulullah SAW menjawab, “Yaitu beriman kepada Allah dan rasul-Nya.”
Beliau ditanya lagi, “Setelah itu apa?” Rasulullah SAW menjawab, “Berjihad di jalan Allah haji mabrur.” (HR Bukhari dalam Kitab Al-Iman dan Muslim dalam Kitab al-Iman)
Sayyid Sabiq menjelaskan, haji mabrur adalah haji yang disertai dengan perbuatan dosa. Adapun, menurut Hasan, ciri-ciri haji mabrur adalah sebagai berikut:
1. Apabila orang yang selesai melaksanakan ibadah haji menjadi semakin zuhud (hidupnya)
2. Tidak tergoda dengan gelimang dunia
3. Lebih mengedepankan kehidupan akhirat
Sementara itu, dalam salah satu hadits yang berasal dari Jabir secara marfu dan dengan sanad hasan dikatakan, “Sesungguhnya wujud dari haji mabrur adalah (tertanamnya sifat asih) dengan memberi makanan (kepada yang berhak) dan ucapannya lembut.” (HR Ahmad dalam Musnad Ahmad)
Dalam redaksi lain dikatakan, Rasulullah SAW menjawab, “Memberi makanan dan menebarkan kedamaian.”
Mengenai hadits tersebut, Syarif Hidayatullah dalam buku 65 Kultum Kamtibmas menarik kesimpulan bahwa ciri-ciri haji mabrur adalah:
1. Santun dalam bertutur kata (thayyibul kalam)
2. Menebarkan kedamaian (ifsya’us salam)
3. Memiliki kepedulian sosial yaitu mengenyangkan orang lapar (ith’amut tha’am)
“Dalam kata lain, bahwa haji mabrur akan berdampak positif pada perilaku dan karakteristik kepribadian pelaku haji itu sendiri dan juga berdampak besar kepada sisi sosial di lingkungannya,” jelasnya.
Siapa pun yang berangkat ibadah haji bukanlah sebuah kebetulan, semua jemaah haji adalah para tamu Allah SWT. Ketika seluruh rangkaian ibadah haji telah terlaksana, semoga ketakwaan kepada Allah SWT semakin bertambah sehingga layak mendapat gelar sebagai haji mabrur.(*)






