Jusuf Kalla Bicara PLTA Kerinci, Energi Bersih hingga Kemampuan Anak Bangsa

Jambi, Nasional343 Dilihat

Pariwarajambi.com – Mantan Wakil Presiden RI Jusuf Kalla (JK) bersama Gubernur Jambi Al Haris meninjau pembangunan PLTA Kerinci Merangin Hindro di Kecamatan Batang Merangin, Kabupaten Kerinci, Rabu (13/09/2023) kemarin.

Jusuf Kalla bersama Al Haris melihat langsung proses pembangunan PLTA dibeberapa titik, mulai dari pembangunan bendungan hingga lokasi pembangunan turbin.

Baca juga: Sekilas Tentang PLTA Kerinci, Investasi Rp 13 Triliun, Kapasitas 350 Megawatt untuk Aliri Listrik Sumatera. Pembangunan Serap 2.000 Pekerja 

Jusuf Kalla mengatakan dirinya rutin memantau pembangunan PLTA Kerinci untuk melihat progres pembangunan dan memberikan semangat kepada para pekerja.

“Saya secara rutin kesini melihat kemajuan pekerjaan, kemudian teman-teman karyawan yang bekerja disini memberikan semangat,” kata JK dibincangi usai meninjau pembangunan PLTA.

JK mengungkapkan pembangunan PLTA Kerinci adalah yang paling luas dibangun Kalla grup. Dia juga menyebutkan pembangunan PLTA di sungai Batang Merangin itu 100 persen menggunakan tenaga anak bangsa Indonesia.

Baca juga: Al Haris Dampingi Jusuf Kalla Tinjau Proyek PLTA Kerinci Merangin Hidro

“Kita ada punya empat, tapi ini yang paling luas punya wilayah pekerjaan. Disini kita lihat semua pekerja anak muda, anak Indonesia, pekerja lokal kita prioritaskan, kemudian tenaga kerja terampil yang juga lengkap anak Indonesia dari berbagai daerah di Indonesia,” ujarnya.

JK menyebutkan pembangunan pembangkit listrik energi bersih seperti PLTA, geotermal, tenaga matahari, dan tenaga angin sangat penting dalam upaya untuk mengurangi polusi udara. Dia berharap pemerintah melalui program nyata untuk mengurangi emisi rumah kaca di Indonesia.

“Ini proyek yang sangat penting dewasa ini dimana dunia mengharuskan kita mengurangi polusi, nomor satu 40 persen penyebab polusi itu karena PLTU, dan salah satu proyek energi bersih inilah PLTA, saya selalu melihat kemajuan itu,”

“Program pemerintah untuk mengurangi emisi menjadi energi bersih dan terbarukan apakah itu PLTA, geotermal, tenaga Surya, apakah itu angin. Itu penting untuk mengurangi polusi atau emisi rumah kaca,” terang JK.

Sebab, lanjut JK untuk membangun energi bersih itu tidak cepat, butuh waktu, modal besar, dan tenaga kerja yang banyak.

“Ada protapnya pemerintah sampai 2050 semua harus listrik energi bersih, membangun energi bersih itu tidak cepat, kita lihat 350 Megawatt itu membutuhkan waktu lima tahun pembangunan, butuh 2000 orang pekerja, peralatan begitu banyak, teknis yang begitu berat. Jadi kita sudah memulai disini,” katanya.

Mantan Wakil Presiden periode 2004-2009 dan 2014-2019 itu juga mengajak anak bangsa untuk berani tampil dan mandiri, serta tidak tergantung dengan asing. JK yakin kemampuan anak bangsa juga mampu mewujudkan pembangunan dan kemajuan untuk Indonesia.

Dan dia mencontoh pembangunan PLTA KMH yang semuanya dibangun oleh anak bangsa, begitu juga dengan material yang cuma sedikit impor.

“Tapi kita bersyukur bahwa kita bisa, kita lihat semua pekerja anak muda dari sini, kebijakan kita harus banyak pekerja lokal, kemudian pekerja terampil dari berbagai daerah, sehingga terjadi peralihan kemampuan dan semuanya bisa, dan jangan berpikir semua bergantung ke asing, disini semua lulusan Indonesia dari Aceh sampai Papua. Artinya kita anak bangsa mampu, merencanakan, bahanya juga, yang kita impor hanya turbin,” ujarnya.

“Jadi jangan hanya orang asing yang berprestasi baik, kita juga bisa, kita juga bank lokal. Dan disini kita sudah memulai, jadi jangan hanya punya statement ingin ini, mau itu, hanya seminar, konferensi, pernyataan.

Jadi anak bangsa juga kita perdayakan, kemampuan teknologi kita kuasai, pekerjanya kita kuasai, multiplayernya kita kuasai,

Disini (PLTA Kerinci) ada 50 subkontraktor ada yang mensuplai batu dan lainnya, hidup semua ekonomi disini, semua dibikin disini, tapi kita lihat pipa dibikin disini, tidak ada dari luar, impor satu-satunya generator turbin. Satunya orang asing disini datang setiap enam bulan untuk mengecek apakah yang dibikin sudah sesuai standar Internasional itu saja,” sebut JK.(rky)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *