Canangkan Agrowisata Kacang Koro, Al Haris Jadi Alternatif Pangan hingga Dongkrak Ekonomi Warga

Berita, Jambi3 Dilihat

Jambi – Pemerintah Provinsi Jambi mulai mengembangkan kacang koro sebagai pangan alternatif. Sebanyak 6 hektare lahan disiapkan untuk budidaya kacang koro di kawasan seluas 10 hektare di Kelurahan Beluran Kenali, Kecamatan Telanaipura, Kota Jambi.

Pengembangan ini ditandai dengan pencanangan Agrowisata Tanaman Koro dan Kampung Pangan Terpadu, Rabu (7/10/2026). Program tersebut digagas sebagai upaya memperkuat ketahanan pangan sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.

Pencanangan berlangsung dalam rangka Hari Karantina Indonesia ke-149 dan HUT Badan Karantina Indonesia ke-3. Hadir dalam kegiatan tersebut Gubernur Jambi Al Haris, Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia Shahandra Hanitiyo, Kepala Karantina Provinsi Jambi Sudiwan Situmorang, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Johansyah, kelompok tani dan masyarakat.

Gubernur Jambi Al Haris mengatakan kacang koro bukan tanaman baru di Indonesia. Namun, pemanfaatannya belum sepopuler kedelai yang selama ini menjadi bahan utama berbagai produk pangan.

“Kacang koro ini sudah lama ada di Indonesia, hanya saja belum banyak dipopulerkan. Padahal kandungan proteinnya luar biasa,” kata Al Haris.

Menurutnya, pengembangan kacang koro dapat menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan terhadap kedelai impor. Masyarakat juga bisa memanfaatkan lahan kosong dan pekarangan untuk menanam komoditas tersebut.

“Tujuannya, karena kita masih mengimpor kedelai, paling tidak dengan kacang koro ini kita bisa mengurangi impor,” ujarnya.

Al Haris menilai peluang hilirisasi kacang koro juga cukup besar. Selain dikonsumsi sebagai bahan pangan, komoditas ini dapat diolah menjadi tempe, kopi, kecap dan berbagai produk lainnya sehingga memiliki nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kalau masyarakat punya lahan yang belum dimanfaatkan, ayo kita tanam kacang koro. Ini bisa memberikan dampak terhadap peningkatan ekonomi warga,” katanya.

Sekretaris Utama Badan Karantina Indonesia Shahandra Hanitiyo mengatakan pencanangan tersebut bukan hanya membangun kawasan pertanian, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat. Karantina, kata dia, kini tidak hanya berperan sebagai penjaga pintu masuk dan keluar komoditas.

“Peran Karantina terus bertransformasi, dari penjaga gerbang menjadi bagian dari diplomasi ekonomi untuk mendorong produk pertanian, perikanan dan peternakan Indonesia berdaya saing hingga pasar internasional,” ujar Shahandra.

Shahandra mengatakan kampung pangan terpadu tersebut akan menggabungkan tanaman, perikanan, peternakan dan lingkungan dalam satu kawasan. “Kami berharap kawasan ini menjadi ruang produksi sekaligus edukasi dan inovasi pangan bagi masyarakat dan generasi muda,” katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Provinsi Jambi Johansyah mengatakan kawasan tersebut akan dikembangkan secara terpadu. Dari total 10 hektare lahan, 6 hektare untuk kacang koro, 3 hektare untuk sayuran dan peternakan, serta 1 hektare untuk pengolahan dan industri rumahan.

“Untuk kacang koro, satu hektare bisa menghasilkan sekitar 8 ton dan dapat dipanen setiap tiga bulan,” kata Johansyah.

Pengembangan tidak berhenti pada budidaya. Kelompok Tani Silih Asih juga telah mengolah kacang koro menjadi kopi, bahan pengganti tempe, susu hingga beras koro. Pemerintah turut mendorong hilirisasi melalui bantuan 12 unit alat pengolahan senilai hampir Rp150 juta serta akses permodalan melalui PNM.

“Dengan konsep tersebut, Pemerintah Provinsi Jambi berharap kawasan Agrowisata Kacang Koro dan Kampung Pangan Terpadu dapat menjadi contoh pengembangan pangan berbasis masyarakat,” ujar Johansyah.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *