Al Haris Ungkap Jambi Terkepung Asap, Arah Angin Jadi Kendala Utama

Berita, Jambi716 Dilihat

Jambi – Gubernur Jambi Al Haris mengungkapkan kabut asap yang menyelimuti Provinsi Jambi semakin sulit ditangani karena arah angin membawa asap menuju wilayah Jambi. Kondisi tersebut terungkap saat Al Haris memantau pergerakan titik api melalui monitor aplikasi SiPongi di Posko Udara Satgas Karhutla Provinsi Jambi, Jumat (9/10/2026).

Dari hasil pemantauan, titik api masih terdeteksi di sejumlah wilayah, di antaranya Kabupaten Muaro Jambi, Tanjung Jabung Timur, dan Tebo. Namun, menurut Al Haris, persoalan utama yang dihadapi saat ini bukan hanya kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga asap yang terbawa angin hingga menyelimuti wilayah Jambi.

“Hal yang tidak bisa dimungkiri adalah arah angin yang semuanya terkunci dan menuju ke Jambi,” tegas Al Haris saat menjelaskan kondisi terkini di depan monitor. Ia didampingi Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Jambi, Bachyuni Deliansyah.

Al Haris mengatakan, berbagai upaya pemadaman terus dilakukan oleh tim di lapangan. Petugas dikerahkan untuk memadamkan api melalui jalur darat, termasuk melakukan penyekatan kanal dan penyiraman di lokasi kebakaran.

Meski begitu, ia menjelaskan penanganan titik api berbeda dengan penanganan kabut asap yang sudah terbawa angin. Tim bisa berupaya memadamkan api di lokasi kebakaran, tetapi tidak dapat secara langsung menghentikan pergerakan asap yang terbawa angin.

“Semua tim bekerja. Kalau ada api yang membakar, insyaallah tim berusaha memadamkannya. Tapi kalau sudah berupa kabut asap, tim tidak bisa berbuat banyak. Kita hanya bisa memohon kepada Allah agar arah angin tidak menuju Jambi atau hujan segera turun,” ungkapnya.

Selain arah angin, kendala lain yang dihadapi adalah terbatasnya jarak pandang untuk melakukan pemadaman melalui jalur udara. Kondisi tersebut membuat operasi water bombing atau pengeboman air belum dapat dilakukan secara maksimal.

“Kendala kita yang pertama, kita tidak bisa melakukan langkah-langkah water bombing karena sampai hari ini jarak pandang kita masih di angka 1.000 meter. Padahal, standar penerbangan itu harus di atas 1.800 meter,” jelas Al Haris.

Keterbatasan jarak pandang juga menjadi pertimbangan dalam pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). Tim masih menunggu kondisi cuaca dan awan yang memungkinkan agar operasi tersebut dapat dilaksanakan.

Al Haris menyebutkan, tim TMC telah bersiap untuk menjalankan operasi. Jika kondisi jarak pandang dan awan mendukung pada malam hari sekitar pukul 19.00 WIB, pelaksanaan TMC akan segera dilakukan.

Pemerintah Provinsi Jambi terus berupaya menangani karhutla dan mengurangi dampak kabut asap. Namun, perubahan arah angin serta kondisi cuaca masih menjadi faktor penting dalam menentukan efektivitas upaya penanganan di lapangan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *